LAPORAN AKHIR
PERCOBAAN 4
KIMIA
ORGANIK
I
DISUSUN
OLEH :
NURHAYATI
(A1C119077)
DOSEN
PENGAMPU :
Dr.
Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2021
VIII. DATA PENGAMATAN
8.1 Rekritstalisasi
|
No |
Prosedur |
Fungsi alat dan bahan |
Tujuan |
Hasil |
|
1. |
Dipanaskan
50 ml air suling sampai adanya gelembung |
1.
Air suling berfungsi sebagai
pelarut 2.
Asam benzoat, glukosa dan karbon
aktif sebagai bahan yang digunakan untuk dapat membentuk kristalisasi 3.
Sudip sebagai alat untuk
mengambil bahan 4.
Corong buncher berfungsi sebagai
alat penyaring 5.
Air panas berfungsi untuk pencuci
endapan tersebut |
Untuk
dapat melarutkan zat yang nantinya
akan digunakan |
Pada
air suling terdapat gelembung |
|
2.
|
Ditempat
lain, dibuat campuran asam benzoate, glukosa dan karbon aktif dengan asam
benzoate 2 sudip, glukosa 1 sudip dan
karbon 1 sudip |
Untuk
mendapatkan campuran zat yang nantinya akan dilarutkan dengan air suling |
Didapatkan
campuran asam benzoat, glukosa dan karbon aktif dengan perandingan 2:1:1 |
|
|
3. |
Setelah
air suling tersebut mendidih, dimasukkan air panas kedalam campuran yang
telah kita buat sebelumnya ( asam benzoate, glukosa dan karbon) dengan sedikit-sedikit
dan diaduk |
Untuk
didapatkan larutan yang nantinya akan terbentuk kristal |
Terdapat
larutan yang terbentuk dari campuran
asam benzoat, glukosa dan karbon dengan pelarut air suling |
|
|
4.
|
Disaring
larutan yang telah dipanaskan tersebut dengan menggunakan corong buncher
selagi dalam keadaan panas |
Untuk
didapatkan endapan yang bebas dari pengotor |
Masih
terdapat kotoran |
|
|
5.
|
Disiapkan
lagi air panas kedua kali dan Didinginkan larutan tersebut |
Untuk
didapatkan endapan yang bebas pengotor |
Didapatkan
larutan yang bersih dari pengotor |
|
|
6. |
Setelah didinginan, disaring kembali larutan
tersebut menggunakan kertas saring whatman |
6.
Kertas saring
whatman berfungsi sebagai penyaring larutan 7.
Air es berfungs
untuk membantu membentuk pengkristalan 8.
Wadah sebagai tempat untuk menampung kristal yang
didapatkan 9.
Pipa kapiler sebagai tempat menyimpan kristl yang ingin
diketahui titik didihnya 10.
MPA berfungsi
sebagai alat pemanas untuk mendapatkan titik leleh |
Untuk
didapatkan hasil yang lebih bersih dari pengotor |
Didapatkan
larutan yang lebih bersih dari sebelumnya |
|
7.
|
Ditempat
lain, sambil menuggu larutan tersaring disiapkan air dingin atau air es |
Mendapatkan
larutan yang dingin untuk pengujian rekristalisasi |
Didapatkan
larutan yang dingin |
|
|
8.
|
Didinginkan
air yang ditampung dari penyaringan tadi dengan menggunakan es yang
telah disiapkan dan Didapatkan
Kristal, dan kita pindahkan ke wadah |
Untuk
mendapatkan kristal |
Didapatkan
kristal dari larutan tersebut |
|
|
9.
|
Dimasukkan
Kristal yang telah terbentuk kedalam pipa kapiler Dan
Dimasukkan pipa kapiler tersebut kedalam alat MPA agar dapat diukur titik
lelehnya |
Didapatkan
titik leleh dari kristal tersebut |
Didapatkan
titik leleh kristalisasi sebesar 115 °C |
8.2 Sublimasi
|
No |
Prosedur |
Fungsi alat dan bahan |
Tujuan |
Hasil |
|
1. |
Disiapkan campuran naftalen
dan juga pasir |
1.
Naftalen dan pasir sebagai
campuran yang diuji coba pada sublimasi 2.
Kertas saring whatman untuk
menutup cawan porselen 3.
Cawan porselen berfungsi sebagai tempat
untuk mencampur naftalen dan pasir 4.
Corong dan gelas wool untuk
tempat sublimasi nya berlangsung 5.
Bunsen dan kaki tiga sebagai alat
untuk pemanasan |
Untuk
didapatkan campuran sebagai sampel yang diuji coba |
Didapatkan
campuran yang berfungsi sebagai sampel pada percobaan ini |
|
2.
|
Dilubangi
kertas saring whatman |
Agar
pada saat pemanasan uap yang terbentuk
dapat diteruskan ke corong dan gelas wool |
Didapatkan
kertas saring whatman yang dilubangi agar sublimasi dapat berlangsung |
|
|
3. |
Ditutup
cawan porselen tersebut menggunkan kertas saring yang telah dilubangi
sebelumnya |
Agar
uap yang disaring tidak langsung naik ke corong dan gelas wool |
Didapatkan
kertas saring sebagai pembatas cawan dan juga corong dan gelas wool |
|
|
4. |
Disumbat corong menggunakan gelas
wool |
Agar
uap yang terbentuk nanti tidak keluar |
Didapatkan
corong yang disumbat dengan menggunakan
gelas wool agar uap tidak keluar |
|
|
5. |
Disiapkan
penangasnya yaitu Bunsen dan juga kaki tiga |
Agar
dapat dilakukan pemanasan terhadap campuran pasir dan naftalen yang
diletakkan didalam cawan porselen |
Didapatkan
penangas yang dapat digunakan untuk pemanasan naftalen dan pasir |
|
|
6. |
Dipanaskan
cawan yang telah ditutup dengan kertas saring selama 5 menit. Adanya uap air
pada kertas saring berarti terjadinya sulimasi pada proses tersebut |
6.
Pipa kapiler sebagai tempat
kristal saat pemanasan berlagsung 7.
Gelas wool sebagai penyumbat pada
saat pemanasan sehingga kristl tidak keluar dari pipa kapiler 8.
Minyak sebagai bahan yang
digunakan untuk mengecek titik leleh dari kristal |
Untuk
didapatkan kristal dari hasil sublimasi pada saat pemanasan |
Didapatkan
kristal pada saat pemanasan |
|
7. |
Didapatkan
kristal pada corong tersebut dimasukkan Kristal yang telah didapatkan
tersebut kedalam pipa kapiler |
Tujuan
dimasukkan kedalam
pipa kapiler adalah sebagai tempat kristal saat dipanaskan dalam minyak |
Didapatkan
bahwa kristal tersebut dapat dimasukkan kedalam pipa kapiler |
|
|
8. |
Disumbat
pipa kapiler tersebut menggunakan gelas wool |
Untuk
pada saat dipanaskan, kristal tersebut tidak keluar |
Didapatkan
bahwa kristal tidak keluar dari pipa kapiler |
|
|
9. |
Diukur
titik lelehnya menggunakan minyak. Dikarenakan minyak mempunyai titik didih
yag tinggi |
Untuk
didapatkannya titik leleh |
Didapatkan
titik lelehnya sebesar 110°C |
IX. PEMBAHASAN
Setelahnya larutan disaring dengan menggunakan corong bunchner dalam
keadaan masih panas, namun masih tertinggal endapan di atas corong buchner yang
kemudian disiram endapan yang tertinggal tersebut dengan menggunakan air panas.
Larutan yang sudah di saring tersebut didinginkan. Kemudian setelah dingin
disaring lagi dengan menggunakan kertas saring whatman. Selagi menunggu proses
penyaringan selesai, disipkan air es yang akan digunakan untuk proses
pengkristalan. Air hasil dari proses penyaringan kemudian didinginkan dengan
menggunakan es yang sudah disiapkan, setelah beberapa saat maka akan terjadi
proses pengkristalan dan timbul kristal. Kristal-kristal yang dihasilkan
kemudian dimasukkan ke dalam pipa kapiler yang selanjutnya dimasukkan ke dalam
alat MPA untuk dilakukan pengukuran titik lelehnya.
Selanjutnya yaitu dilakukan proses sublimasi. Hal pertama yang dilakukan
adalah menyiapkan campuran naftalen dan pasir yang diaduk rata. Kemudian disipkan
kertas saring whatman yang dilubangi. Selanjutnya ditutup cawan porselen dengan
menggunakan kertas saring yang sudah dilubangi tersebut, di tempat lain
dilakukan juga yaitu menyumbat corong dengan menggunakan gelas wool. Selanjutnya
dipanaskan cawan yang berisi campuran naftalen dan pasir tersebut selama 5
menit, yang kemudian akan timbul uap pada kertas saring yang menandakan bahwa
proses sublimasi sedang berlangsung. Setelah selesai pemanasan maka terdapat
kristal pada corong, kristal yang dihasilkan kemudian dimasukkan kedalam pipa
kapiler yang kemudian akan diukur titik lelehnya.
X. PERTANYAAN
1. Pada proses rekritalisasi mengapa penyiraman air panas dilakukan dengan sedikit demi sedikit?
2. Pada
proses rekritalisasi mengapa penyaringan dilakukan dua kali yaitu penyaringan
dengan menggunakan corong buchner dan dengan menggunakan kertas saring whatman?
3.
Mengapa
kertas saring whatman yang digunakan pada proses sublimasi perlu dilubangi?
XI. KESIMPULAN
Rekristalisasi adalah
suatu teknik pemisahan zat padat dari pencemarannya yang dilakukan dengan cara
mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang
sesuai. Prinsip dasar dari rekristalisasi adalah pelarut hanya dapat melarutkan
zat yang akan dimurnikan dan tidak melarutkan zat pencemarnya.
Sublimasi ialah istilah
dalam kimia yang berhubungan dengan perubahan zat. Sublimasi merupakan suatu
proses pembentukan fase padat tanpa melalui fase cair terlebih dahulu.
XII. DAFTAR PUSTAKA
Oxtoby, David
W. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern.
Jakarta : Erlangga.
Kristanti, Alfinda
N. 2008. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya
: Airlangga University Press.
Pinalla, Anita. 2011.
Penentuan Metode Rekristalisasi Yang Tepat Untuk Memingkatkan Kemurnian Kristal
Amonium Perklorat (AP). Majalah Sains
dan Teknologi Dirgantara. 6 (2), 65.
Syafurjaya, Roby.,
dan Hasanah, Sari. 2009. Kualitas Fisik Kertas Setelah Pengeringan dengan
Metode Kering Angin Dan Vacuum Freeze Drying. Baca. 30 (1), 39.
Faputri, Achmad
Faisal. 2016. Desain Evaporator dan Pengujian Kondisi Optimal Pada Desain
Pelaratan. Jurnal Teknik Patra
Akademika. 7 (2).

Perkenalkan saya Desri Indah Rahmadona Nim A1C119041 akan menjawab permasalahan no 2 bahwa saat proses sublimasi itu dilakukan penyaringan 2 kali , dilakukan penyaringan 2 kali agar zat atau sampel yang digunakan itu bersih dari zat pengotornya jadi hasil yang dihasilkan benar benar murni pada sampel yang digunakan dan tidak terkontaminasi dengan zat pengotornya.
BalasHapusperkenalkan saya yiyin novela (A1C119062) ingin menjawab pertanyaan no 3. kertas saring whatman yang digunakan pada proses sublimasi perlu dilubangi karena Agar uap yang disaring tidak langsung naik ke corong dan gelas wool.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya Ahmad Rivaldi (047) akan enjawab soal no 1. Supaya endapan dan airnya tidak keluar dari area kertas saring, Jika langsung memberikan air yang banyak tentu akan tumpah karena melebihi volume saat proses penyaringan.
BalasHapus