Minggu, 16 Mei 2021

Laporan Praktikum Kimia Organik Percobaan 12 : Teknik Pemisahan dengan Kromatografi Kolom

 LAPORAN AKHIR PERCOBAAN 12

KIMIA ORGANIK I

 

 

 


 

 

 

 DISUSUN OLEH :

NURHAYATI

(A1C119077)

 

 

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2021


VIII. DATA PENGAMATAN

No

Perlakuan

Fungsi Alat dan Bahan

Tujuan

Hasil

1

Kromotografi Kolom Bagian 1

1). Siapkan 4 bejana KLT yang diisi dengan 4 fase gerak yang berbeda

2). Siapkan 4 plat KLT dengan ukuran 3 x 10 cm, beri tanda batas bawah 1,5 cm dan batas atas 0,5 cm

3). Siapkan larutan baku EPMS dan larutan sampel ekstrak rimpang kencur

4). Totolkan larutan baku EPMS sebanyak 2 miu L dan ekstrak rimpang kencur sebanyak 4 miu L pada masing-masing plat KLT

5). Buat jarak antar noda 1,5 cm. usahakan diameter noda yang terbentuk tidak lebih dari 0,3 cm

6). Masukkan plat KLT pada bejana  yang sudah dijenuhkan

7). Eluasi hingga batas atas plat KLT

8). Visualisasi plat KLT dibawah UV 254 nm

9). Beri tanda noda yang terlihat dan hitung derajat keterpisahan alpha dari EPMS terhadap noda terdekat.

Bejana KLT, fungsi : wadah tempat fase gerak

 

Plat KLT, fungsi : tempat fase diam

 

Larutan baku EPMS, fungsi: sebagai sampel

 

Larutan ekstrak rimpang kencur : sebagai sampel

 

 

 

Disiapkan KLT bejana dengan tujuan untuk dijenuhkan

 

 

 

 

 Disiapkan larutan untuk ditotolkan ke plat KLT

 Ditotolkan untuk memberi noda pada plat KLT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dimasukkan agar terjadi elusi

 Diberi tanda untuk menandakan noda dan mempermudah perhitungan

 

 

Berdasarkan hasil KLT fase gerak yang dipilih adalah :

1. Derajat keterpisahan antara senyawa target (EPMS) dengan noda terdekat adalah alpha lebih besar sama dengan 1,5

2. Tidak tailing

3. Nilai RF senyawa target (EPMS) 0,4-0,5

2

Kromotografi Kolom Bagian 2

1). Timbang silica gel sebanyak 50 gram

2). Masukkan silica gel kedalam labu Erlenmeyer

3). Tambahkan fase gerak terpilih hingga semua silica gel terbasahi

4). Aduk dengan batang pengaduk

 

 

5). Tutup dengan aluminium foil

 

 

6). Goyangkan labu Erlenmeyer untuk membantu supaya silica gel terbasahi secara merata dengan eluen

7). Tuangkan campuran silica gel dan eluen kedalam kolom dengan bantuan corong gelas

8). Buka stopper dibagian bawah kolom untuk mengeluarkan eluen

9). Jika masih ada sisa silica gel didalam labu Erlenmeyer, ditambahkan lagi eluen dan masukkan kedalam kolom

10). Tutup stopper dibagian bawah kolom

11). Pastikan eluen dalam kolom terisi penuh, kemudian tutup dengan aluminium foil dan rekatkan dengan karet gelang

12). Diamkan selama 1-2 jam sebelum digunakan (pada praktikum kali ini kolom dibiarkan selama 7 hari sebelum digunakan)

13). Siapkan 0,5 gram ekstrak rimpang kencur dan 0,5 gram silica gel

14). Tambahkan silica gel sedikit demi sedikit kedalam ekstrak

15). Aduk dengan spatula hingga homogen dan ekstrak menjadi kering (menjadi serbuk)

16). Buka penutup aluminium foil dari kolom

17). Keluarkan eluen dari kolom dengan cara membuka stopper dari bagian bawah kolom

18). Keluarkan eluen hingga batas 0,5 cm dari permukaan atas fase diam

19). Tutup stopper

 

20). Masukkan sampel kering kedalam kolom dan pastikan sampel terdistribusi merata diatas kolom

21). Siapkan silica gel sebanyak 0,5 gram dan masukkan kedalam kolom

 

22). Tambahkan eluen melalui dinding kolom dengan bantuan pipet Pasteur

23). Alirkan eluan dan tampung dalam baker

24). Beberapa ml eluan yang keluar pertama kali dari kolom belum mengandung senyawa kimia dari ekstrak, oleh karena itu tampungan ini bisa dibuang

25). Umumnya sekitar 50% dari volume kolom

26). Selanjutnya tampung fraksi dalam fial yang sudah ditara sebanyak 10 ml dan sudah ditandai dengan nomor

27). Atur kecepat alir 1 tetes per detik

30). Jika sudah penuh 10 ml ganti dengan vial berikutnya

31). Tutup vial dengan aluminium foil dan lubangi atasnya dengan bantuan jarum

32). Biarkan hingga Sebagian besar eluen menguap.

Silica gel, fungsi : sebagai fase diam

 

Labu erlenmeyer, fungsi : tempat campuran silica gel dan fase gerak

 

Batang pengaduk, fungsi : mempercepat campuran silica gel dan fase gerak

 

Alumunium foil , fungsi : menutup labu erlenmeyer

 

Kolom, fungsi : tempat terjadinya pemisahan

 

Corong gelas, fungsi : alat bantu memindahkan silica gel dan eluen

 

Karet gelang, fungsi : merekatkan aluminium foil sebagai penutup

 

Eluen, fungsi : sebagai fase gerak

 

Pipet Pasteur, fungsi : alat membantu memindahkan eluen

 

Beker, fungsi : tempat menampung eluen

 

Jarum, fungsi : melubangi aluminium foil

 

 

 Untuk mempersiapkan silica gel

 

 

 

Ditambahi fase gerak dengan tujuan agar silica gel basah

 Diaduk dengan tujuan agar larutan homogen

Ditutup dengan tujuan agar larutan tidak terkontaminasi

Digoyangkan dengan tujuan agar silica gel homogen dengan uluen

 

 

Untuk mempersiapkan langkah selanjutnya

 

 

Dibuka dengan tujuan untuk mengeluarkan eluen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk memberhentikan keluarnya eluen

Hal ini untuk memastikan agar kolom tidak kering selama penyimpanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk mempersiapkan sampel percobaan

 

Ditambahkan untuk mencampurkan kedua sampel

Diaduk dengan tujuan agar homogen dan terbentuk serbuk

 

Untuk melakukan pemisahan kromatografi kolom

Mengeluarkan eluen hingga batas 0,5 cm dari atas fase diam

 

  

Menghentikan kalurnya eluen

 

Untuk mencampurkan sampel

 

 

 

 

 

Hal ini untuk melindungi ekstrak supaya tetap rata pada saat ditambahkan eluen

Untuk mencampurkan sampel

 

 

Dialirkan agar eluen keluar

 

 

Hasil eluen yang ditampung dibuang karena mengandung senyawa kimia dari ekstrak

  

Untuk memisahkan fraksi ke dalam fial-fial yang sudah dipersiapkan

 

Ditutup dengan aluminium dan dilubangi dengan bantuan jarum dengan tujuan agar eluen menguap

Berdasarkan  hasil KLT dari 4 fase gerak (video kromotografi kolom bagian 1) diperoleh fase gerak terpilih adalah n-heksana : etil asetat (4 : 1)

Kombinasi ini terpilih karena :

1. Derajat keterpisahan antara senyawa target EPMS dengan noda terdekat adalah alpha lebih besar sama dengan 1,5

2. Tidak tailing

3. nilai Rf senyawa target (EPMS)  0,4-0,5.

 

Setelah beberapa hari tampungan akan menguap , jika hasil tampungan mengering maka perlu ditambahkan eluen beberapa tetes

 

 

 

IX.       PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan untuk memisahkan menggunakan kromatografi kolom. Dimana pada percobaan ini dilakukan dua tahap, yaitu pada tahap pertama menyiapkan 4 bejana KLT yang diisi dengan 4 fase gerak yang berbeda. Selain itu juga menyiapkan 4 plat KLT dengan ukuran 3 x 10 cm, beri tanda batas bawah 1,5 cm dan batas atas 0,5 cm.  Dan yang terkahir juga menyiapkan larutan baku EPMS dan larutan sampel ekstrak rimpang kencur. Setelah semua sudah disiapkan maka diotolkan larutan baku EPMS sebanyak 2 miu L dan ekstrak rimpang kencur sebanyak 4 miu L pada masing-masing plat KLT dan dengan dibuat jarak antar noda 1,5 cm usahakan diameter noda yang terbentuk tidak lebih dari 0,3 cm. Setelahnya dimasukkan plat KLT pada bejana  yang sudah dijenuhkan dan terjadi eluasi hingga batas atas plat KLT. Setelah selesai maka visualisasi plat KLT dibawah UV 254 nm dan dieri tanda noda yang terlihat dan hitung derajat keterpisahan alpha dari EPMS terhadap noda terdekat.

Dari percobaan yang dilakukan pada tahap pertama ini maka didapatkan hasil yaitu berdasarkan KLT fase gerak yang dipilih dan didapatkan derajat keterpisahan antara senyawa target (EPMS) dengan noda terdekat adalah alpha lebih besar sama dengan 1,5. Selanjutnya tidak tailing dan juga memiliki nilai RF senyawa target (EPMS) 0,4-0,5.

Setelah pada tahap pertama telah selesai maka dilanjutkan dengan tahap yang kedua. Pada tahap kedua ini didapatkan hasil KLT dari 4 fase gerak (video kromotografi kolom bagian 1) diperoleh fase gerak terpilih adalah n-heksana : etil asetat (4 : 1). Kombinasi ini terpilih karena derajat keterpisahan antara senyawa target EPMS dengan noda terdekat adalah alpha lebih besar sama dengan 1,5. Selain itu juga tidak tailing dan memiliki nilai Rf senyawa target (EPMS)  0,4-0,5. Setelah beberapa hari tampungan akan menguap , jika hasil tampungan mengering maka perlu ditambahkan eluen beberapa tetes

X.          PERTANYAAN

1.             Pada hasil percobaan tidak tailing. Bagaimana yang dimaksud dengan tidak tailing tersebut?

2.             Mengapa dipilih penggunaan silica gel pada percobaan kromatografi kolom?

3.             Bagaimana yang menandakan bahwa percobaan kromatografi kolom ini berhasil dilakukan?


XI.       KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu :

1.             Berdasarkan hasil KLT fase gerak yang dipilih pada bagian 1 adalah derajat keterpisahan antara senyawa target (EPMS) dengan noda terdekat adalah alpha lebih besar sama dengan 1,5

2.             Berdasarkan  hasil KLT dari 4 fase gerak (video kromotografi kolom bagian 1) diperoleh fase gerak terpilih adalah n-heksana : etil asetat (4 : 1). Kombinasi ini terpilih karena derajat keterpisahan antara senyawa target EPMS dengan noda terdekat adalah alpha lebih besar sama dengan 1,5


XII.    DAFTAR PUSTAKA

Fabiani, V. A., Wahyuni, N., Brilliantoro, R., & Safitri, M. N. (2018). SINTESIS DAN KARAKTERISASI SILIKA GEL DARI LIMBAH KACA SERTA APLIKASINYA PADA KROMATOGRAFI KOLOM. Indonesian Journal of Pure and Applied Chemistry1(1), 10-16.

Oxtoby, D. W. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.


4 komentar:

  1. Baiklah saya gadis septyo wulandari dengan nim a1c119026 akan menjawab pertanyaan nomor 2. Dipilihnya silica gel dikarenakan ia dapat mampu menghasilkan dalam proses pemisahkan yang lebih bauk atau optimal

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum. Saya Teguh Arizki (A1C119008) akan menjawab permasalah no 3. Setelah diberi tanda noda maka terlihat keterpisahan alpha dari EPMS terhadap noda terdekat.

    BalasHapus
  4. Baiklah perkenalkan saya Ike Sonia (A1C119032) akan menjawab pertanyaan nomor 1. Gugus OH yang dapat menyerap molekul-molekul zat terlarut, sehingga pembebasan zat terlarut dari lapisan cairan ke carrier gas/gas pembawa menjadi lambat. Akibatnya terjadi tailing pada peak.

    BalasHapus

Laporan Praktikum Kimia Organik Percobaan 13 : Metode Ekstraksi Senyawa-senyawa Organik

  LAPORAN AKHIR PERCOBAAN 13 KIMIA O RGANIK I           DISUSUN OLEH : NURHAYATI (A1C119077)     DOSEN PENGAMPU : ...